ICDRC Program - Penerapan perspektif gender disabilitas dan inklusi sosial (Gedsi) di dalam kelembagaan dan program

ICDRC Program - Penerapan perspektif gender disabilitas dan inklusi sosial (Gedsi) di dalam kelembagaan dan program

Dalam program ICDRC (Indonesian Climate and disaster Resiliense communities) yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga mitra OXFAM di wilayah Indonesia timur yaitu Lombok, Bima, Kupang dan flores timur, Sapda Yogyakarta berperan untuk mendukung penguatan perspektif gender disabilitas dan inklusi sosial di dalam organisasi dan program. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan agar masyarakat kelompok rentan termasuk perempuan, disabilitas terlibat di dalam pelaksanaan program sebagai subyek dan menyadari hak-haknya sehingga  masyarakat kelompok rentan termasuk perempuan dan disabilitas memiliki ketangguhan terhadap dampak perubahan iklim dan ancaman bencana.

Bertempat di kantor PIKUL Kupang, SAPDA melakukan pendampingan lapangan terkait pengembangan kebijakan gender, disabilitas dan inklusi sosial. Terdapat dua agenda dalam pertemuan ini, yakni membahas kebijakan dan SOP yang berperspektif disabilitas serta penyusunan dokumen mekanisme komplain dan feedback.Terdapat beberapa elemen penting yang akan dimasukkan dalam draft ini, yakni elemen sumberdaya manusia atau perekrutan, pelibatan disabilitas dalam program, infrastruktur terutama bagian ramp dan toilet, serta elemen kebijakan cuti dan libur.

Kemudian diskusi berlanjut di desa Taiftob, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Kepada komunitas disabilitas, SAPDA memberikan penguatan kapasitas berupa pemahaman tentang ragam disabilitas, interaksi dengan disabilitas dan bagaimana penerimaan disabilitas di lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat.

Kegiatan ini dihadiri oleh kelompok petani muda perempuan dan beberapa anggota keluarga yang memiliki anggota/anak disabilitas. 
pertemuan ini menjadi wadah yang sangat baik bagi teman-teman disabilitas dalam bersosialisasi dengan masyarakat, terutama bagi mereka yang belum pernah keluar rumah karena dianggap berbeda dan menjadi aib bagi keluarga.

Pertemuan ini sekaligus menginisiasi terbentuknya forum keluarga dengan anak disabilitas, mereka mengagendakan pertemuan rutin bulanan dan meminta PIKUL untuk mendampingi dan memberikan skill ataupun kapasitas pemahaman disabilitas, serta kemandirian secara ekonomi.