"Kami Bahagia, Bisa Rasakan Terang di Malam Hari"

"Kami Bahagia, Bisa Rasakan Terang di Malam Hari"

"Kami Bahagia, Bisa Rasakan Terang di Malam Hari"

 Siang itu, terik matahari tak begitu menyengat. Aroma tanah basah bekas air hujan yang turun semalam berbaur dan terhirup di udara. Di perbukitan terjal dengan pepohonan yang masih lebat, tim JMK Oxfam berusaha menembus jalan sempit, terjal dan naik turun di antara lebatnya rerimbuan pohon bukit menggunakan motor yang sesekali terjebak di kubangan tanah. Wajah mereka penuh gairah, sesekali bersenda gurau menepis letih.

lere2       lere1

(Chandra dan Rizky, staf JMK Oxfam saat menyusuri jalanan menuju dusun Lalere, Tuva)

Jarak perjalanan yang ditempuh menuju dusun 1 RT IV (Lalere)  hanya sekitar 6 kilometer dari pintu masuk desa Tuva. Namun perjalanan memakan waktu sekitar 1,5 jam melihat kawasan ini melintasi perbukitan dengan jalanan bebatuan cadas yang tak rata.

Perjalanan ini hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki atau dengan motor trail karena akan melintasi tepian jurang terjal. Kadang harus menahan napas untuk melewati perjalanan ini.

Menjelang sore hari, tim JMK Oxfam tiba di dusun Lalere. Mereka disambut oleh beberapa warga Desa dengan wajah ramah dan penuh senyum. Sesekali terlihat bocah di balik pintu sedang mengintip dan memancarkan wajah penuh penasaran. 

Dusun tersebut berpenduduk sekitar 18 KK. Mereka adalah suku asli Kaili Da'ah. Mata pencaharian mereka berkebun dan membuat rotan. Adison (50) Ketua RT dusun tersebut bercerita, awalnya, penduduk dusun hanya tinggal di pondok yang dirakit dari pohon bambu. "Nanti pada tahun 2015, kami dapat bantuan untuk dibangunkan rumah dari Kementerian Sosial. Karena waktu itu mereka ada kunjungan ke dusun Lalere."

Mengenai akses pendidikan di dusun Lalere, pernah ada sekolah untuk baca tulis, namun karena akses jalanan yang sangat sulit, sekolah tersebut ditiadakan. "Ya, mungkin karena jalanan yang harus dilalui cukup sulit, guru sekolah tidak mampu lagi pulang pergi mengajar ke sini." 

Hari itu, JMK Oxfam menyampaikan maksud akan memasang 2 unit lampu solar di tempat-tempat yang berpotensi menimbulkan kekerasan dan pelecehan di desa Lalere sebagai bagian dari perlindungan warga utamanya kelompok rentan. Maksud dari JMK Oxfam tersebut disambut syukur dan haru warga Lalere.

Gotong Royong Mendirikan Lampu Solar

 Pemasangan lampu solar di dusun Lalere dikerjakan secara bergotong royong dengan masyarakat setempat. Adison, menjadi sosok motor penggerak pemasangan lampu solar tersebut. Mengingat akses jalanan yang cukup berbahaya, seluruh material pemasangan lampu solar diangkut dengan berjalan kaki.

lere5         lere4
(Adison, Ketua RT IV Dusun Lalere, Tuva, Sigi, Sulawesi Tengah saat mengangkat tiang besi lampu solar)

Adison menggotong tiang listrik dengan panjang 7 meter sejauh 6 kilometer tanpa alas kaki. Keringatnya bercucuran membasahi baju biru tua yang dipakainya. Celana kain cokelat muda yang dipakainya juga terlihat kotor berlumpur. Terpancar wajah lelah dari Adison, namun senyumnya masih mengembang kepada masyarakat dan JMK Oxfam. "Huh, lumayan," imbuh Adison dengan senyum sambil membuka topinya. 

Setelah menggotong tiang listrik tersebut, Adison bersama warga dusun dan JMK Oxfam bahu membahu  mendirikan lampu solar di depan tempat ibadah dan di MCK umum. Ada yang membuat galian persegi empat, ada yang menancap tiang tersebut di dalam galian, hingga akhirnya lampu solar tersebut berdiri tegak. 

lere3          lere6
(JMK Oxfam bersama warga dusun Lalere mendirikan lampu solar)

 

Melihat Warga Bahagia, Lelah Saya Hilang..

 lere7
(Adison, Ketua RT IV Dusun Lalere, Tuva, Sigi, Sulawesi Tengah)

Adison bercerita, di malam pertama lampu solar tersebut terpasang, banyak warga dusun yang duduk-duduk di depan teras rumah masing-masing, menikmati cahaya lampu sambil meraut rotan. Terpancar kebahagiaan di wajah mereka. "Kami bersyukur sekali ada bantuan dari JMK Oxfam seperti ini. Setelah puluhan tahun hidup di sini, kami bisa rasakan namanya cahaya di malam hari.  Melihat warga bahagia, lelah saya setelah memikul tiang besi tersebut hilang."

Kebahagiaan lain datang dari anak-anak di dusun Lalere. Kata Adison, anak-anak di dusun tersebut terlihat sangat senang. Mereka masih bermain saat menjelang petang. Berlari-lari, tertawa, sambil menemani ibunya yang  meraut rotan.

Tidak takut lagi beraktivitas di malam hari

 lere8
(Vina, warga dusun Lalere, Tuva, Sulteng)

Vina (35) warga dusun Lalere turut menyapaikan rasa syukurnya. Vina bercerita, sebagai perempuan, kadang terbersit rasa takut di malam hari untuk keluar rumah. "Biasa kan, mau ke wc malam hari, biasa agak takut juga karena terlalu gelap. Sekarang sudah tidak takut-takut lagi, karena sudah terang," ucap Vina dengan senyum.

Penulis: Degina Adenessa