Memulihkan Ekonomi Penyintas Bencana di Tengah Pandemi Virus Covid-19

Memulihkan Ekonomi Penyintas Bencana di Tengah Pandemi Virus Covid-19

Memulihkan Ekonomi Penyintas Bencana di Tengah Pandemi Virus Covid-19
 
Masih terasa jelas dalam ingatan, peristwa gempa bumi 7,4 skala richter (SR), gelombang tsunami dan likuifaksi yang meluluhlantahkan kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala pada 28 September 2018 silam.
Ratusan ribu jiwa melayang dan jutaan orang kehilangan tempat tinggalnya. Begitulah risiko yang harus dihadapi Indonesia lantaran berada di lempeng Cincin Api Pasifik (ring of fire). Pada sektor sosial, kerusakan dan kerugian terdapat pada  banyak fasilitas pendidikan dan kesehatan yang rusah hampir di seluruh wilayah Palu, Sigi dan Donggala.
Lebih luas lagi, bencana turut melumpuhkan sendi-sendi ekonomi, di mana pendapatan daerah berkurang, tingkat pengangguran meningkat, mata pencaharian masyarakat turut hilang. Banyak petani kehilangan lahan pertanian, peternak yang kehilangan hewan ternak, petambak garam yang kehilangan lahan penggaraman, hingga usaha rumahan yang harus tergerus bencana. 

Dengan skala kerusakan dan kerugian yang demikian besar, pemulihan ekonomi secara menyeluruh menjadi hal yang menjadi fokus Jejaring Mitra Kemanusiaan (JMK)-Oxfam dalam program pemulihan bencana alam Sulawesi Tengah.
Dalam fase pemulihan pasca bencana, JMK-Oxfam menitikberatkan pendekatan pada ketangguhan ekonomi berbasis kelompok. Program yang dimotori oleh sector Livelihood ini, menyasar para penyintas yang tersebar di Palu, Sigi dan Donggala untuk pemulihan serta ketangguhan ekonomi berbasis kelompok usaha masyarakat. Secara teknis, JMK Oxfam melakukan pengidentifikasian usaha-usaha yang memiliki potensi untuk tumbuh dan bertahan di pasaran. Kelompok usaha tersebut juga ber-asas pada kebutuhan serta potensi yang telah ada dari suatu desa. Seperti contoh, di desa Langaleso, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, JMK-Oxfam mendorong terbentuknya kelompok usaha jahit. Hal ini didasari dengan kondisi masyarakat sekitar yang telah memiliki pengetahuan dan keterampilan mengenai jahit menahit. Selain itu, usaha jahit merupakan mata pencaharian Sebagian besar warga di Langaleso sebelum bencana alam menerpah.

Contoh lainnya terdapat di salah satu desa terpencil di kabupaten Donggala yakni desa Ketong. Para Ibu Rumah Tangga di desa tersebut didorong untuk membentuk kelompok usaha pembuatan minyak kelapa murni. Hal ini berdasarkan pengidentifikasian pada lingkungan di desa tersebut yang memiliki potensi tanaman kelapa yang cukup memadai. Selain itu, kelompok tersebut juga didasari pada keinginan kelompok untuk memperluas pasaran minyak kelapa murni tersebut.
Pemulihan ekonomi dan upaya membangun ketangguhan ekonomi ini, melewati beberapa tahapan yang dilakukan JMK-Oxfam melalui sector Livelihood dan didukung oleh sector WASH dan GEDSI.
Di titik awal, JMK-Oxfam melakukan pengidentifikasian jenis usaha yang memiliki potensi pendapatan ekonomi, kemudian ke tahap sosialisasi kepada masyarakat yang terlibat di dalam kelompok. Sosialisasi yang dilakukan menitikberatkan tentang kerja berbasis kelompok yang menjadi prinsip JMK-Oxfam. Di titik ini, JMK-Oxfam berupaya membangun ketangguhan pengorganisasian masyarakat untuk tetap konsisten menjalankan kelompok usaha secara swadaya.

Selanjutnya, pelatihan usaha turut dilakukan JMK-Oxfam di berbagai sector usaha seperti pertanian, peternakan, UMKM, dan kelompok usaha lainnya. Hingga ke tahap pencairan modal usaha serta pendampingan kepada kelompok usaha. Dalam tahap pendampingan, JMK-Oxfam menitikberatkan fokus pada evaluasi dan monitoring hasil kerja kelompok, baik dalam sector keuangan, pengorganisasian hingga peluang pasar yang dihasilkan.

JMK-Oxfam Pulihkan Ekonomi Penyintas di Tengah Pandemi Corona
Puing-puing harapan yang baru saja disusun rapi oleh para penyintas, seakan mendapat harus melewati fase yang berat lagiketika wabah virus corona di hampir seluruh wilayah Indonesia yang membawa dampak cukup buruk bagi manusia dari berbagai lini, termasuk sejumlah kelompok usaha yang baru dirintis. Beruntungnya, berbagai inisiatif dan dorongan terus diberikan kepada kelompok usaha untuk Kembali menyalakan semangat mereka. 

Cerita Ibu Mega, kelompok usaha jahit
2
(Ibu Mega, penjahit di desa Langaleso)

Seperti halnya Ibu Mega, Ibu Rumah Tangga di Desa Langaleso yang terlibat dalam kelompok usaha jahit. Ibu Mega berkata, “Alhamdulillah, kemarin kami menerima permintaan masker dari pemerintah desa di kecamatan Dolo. Mereka meminta dalam jumlah banyak dan hal itu sangat menolong kami untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Ibu Mega.

baca Juga Produktivitas Kelompok Usaha Jahit PKBI JMK Oxfam di Masa Pandemi Covid-19


Berkat seperti hal tersebut menjadi semangat bagi Ibu Mega dan kelompok jahit lainnya untuk terus produktif walau di masa pandemic covid-19 yang diketahui membawa pengaruh besar dalam ketahanan ekonomi. “Kami sangat bersyukur karena JMK Oxfam sudah terus membantu dan mendukung serta mendorong kami untuk bangkit dari keterpurukan, dan kami masih bisa terus bekerja walau disituasi pandemi.”
Cerita Ibu Masni, kelompok usaha kripik

3 
(Ibu Masni, pembuat keripik di desa Langaleso)

Sama halnya dengan Ibu Masni, dari desa yang sama dengan Ibu Mega namun tergabung dalam kelompok usaha berbeda, yakni usaha pembuatan keripik. Ibu Masni bersyukur, kelompok usaha yang digagas JMK-Oxfam telah membawa dampak yang cukup baik bagi dirinya walau tengah menghadapi situasi pandemic Covid-19.
“Saya merasa terbantu utamanya di situasi pandemic, kita tetap bisa mengajak teman-teman untuk terus maju dan usaha untuk menopang keluarga. Situasi pandemic ini kami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup, kebutuhan dapur jadi dengan adanya bantuan ini, kami masih bisa tetap berbagi bersama teman-teman untuk menjalankan usaha keripik,” tutur ibu Masni.

Cerita Ibu Katriani, Usaha Hidroponik
 
4
(Ibu Katriani, kelompok usaha hidroponik)

Kemudian Ibu Katriani, dari Kelurahan Duyu Kota Palu. Ibi Katriani merupakan bagian dari kelompok usaha hidroponik yang dibentuk JMK-Oxfam. Seperti dua Ibu lainnya, Ibu Katriani juga merasa cukup terbantu dengan kelompok usaha yang dibentuk JMK-Oxfam. Ibu Katriani bersama kelompok usaha hidroponik lainnya, tetap rutin menanam, merawat dan memanen tanaman yang didominasi oleh sayur yang mereka rawat dalam kelompok usaha hidroponik tersebut. “Kami telah menerima pelatihan penanaman hidroponik. Kami telah merasakan manfaat dari aktivitas ini untuk perekonomian kami. Sayur-sayur yang kami tanam, bisa kami jual dan kami konsumsi sendiri.”

Cerita Pak Kadir, Kelompok usaha pertanian hortikultura
65  
Pak Kadir yang siang itu tengah memetik tomat yang ditanamnya bercerita, bagaimana kondisi kebunnya dan teman-teman petani di desa Langaleso yang tidak bisa lagi digarap. Kebun tanaman hortikultura yang menjadi mata pencaharian mereka mengalami kekeringan karena sumber daya air yang tidak memadai. “Dulu ini semua tidak seperti ini. Tandus, kering, tidak ada tanaman,” kenang pak Kadir. Namun sebersit harapan Kembali tumbuh Ketika JMK-Oxfam melakukan bantuan pemulihan ekonomi kepada petani di beberapa wilayah, termasuk tempat pak Kadir bersama teman-teman tani lainnya bernaung.  “Dengan adanya bantuan ini, lahan kami yang kering karena tidak adanya air, menjadi hidup Kembali. Dari bantuan usaha yang diberikan itu, kami bangun saluran air di kebun kami. ”

 

Teks dan Foto: Degina Adenessa