Monitoring Kelompok Usaha Desa Dampingan JMK Oxfam di Donggala

Monitoring Kelompok Usaha Desa Dampingan JMK Oxfam di Donggala

Monitoring Kelompok Usaha Desa Dampingan JMK Oxfam di Donggala  
Reported by : Nurwahida , Tim Media JMK Oxfam

Donggala- (8-9/Juli ) Perjalanannya memakan waktu sekitar lima jam dari Palu-Sirenja-Manimbaya dengan medan ekstrim dan hujan yang terus turun disepanjang jalan, memasuki hutan , menyusuri gunung-gunung serta kondisi jalan becek, berbatu-batu dan mudah amblas,  tak ayal membuat tim kami cukup gugup.  Masih mending terlempar-lempar di dalam mobil karena benturan keras ban yang terus meraung-raung untuk bisa lolos dari  tanjakan licin yang terjal. Dalam kasus terburuk, tim kami bisa terjebak di tengah hutan  dan tidak melanjutkan perjalanan atau harus bermalam karena beberpa ruas jalan yang putus . Belum lagi alat komunikasi yang tak bisa di fungsikan secara maskimal, dengan signalnya yang timbul tenggelam. 

WhatsApp Image 2020-07-14 at 09.32.14

Salah satu ruas jalan yang agak lumayan bagus yang tim kami harus lalui sebelum menerobos jalan ekstrim ke dalam hutan. Pernah suatu hari , salah satu tim kami  yang lain dituduh menabrak kambing warga, 

Dalam pikiran kami saat itu,  bagaimana dengan warga yang setiap harinya menghadapi medan jalan yang seperti ini. Dan lagi, sebagian besar dari mata pencaharian masyarakatnya adalah berkebun dan bertani,  untuk bisa sampai ke kota memasarkan hasil bumi mereka, jarak tempuh  dan jenis moda transportasi yang digunakan tentu bisa jadi kendala utama. 
Dan setelah berjibaku dengan ketegangan di sepanjang jalan yang kami tempuh, akhirnya tibalah kami di kantor desa manimbaya. Beberapa warga sudah terlihat mengambil tempat duduk mereka. Dengan tetap berpedoman pada protokol kesehatan dimasa pandemik seperti sekarang ini. Dan dari pengurus kantor desa juga nampak sedikit melakukan persiapan kecil sebelum forum komunikasi dalam agenda monitoring  dimulai.

WhatsApp Image 2020-07-14 at 09.23.45Kelompok usaha desa manimbaya yang hadir dalam forum monitoring

“Sejak beberapa minggu ini  sudah ada di hati kami untuk aktif berkegiatan, karena bantuan sudah disalurkan, kelompok-kelompok usaha kami ini sudah mulai keliatan dari  kegiatan-kegiatannya “  Pak kades mulai membuka forum monitoring  
“Karena sudah ada itu bantuan, peralatan-peralatan dan mesin juga sudah dibelikan , tangki-tangki, drum dan yang lainnya  , sudah ada juga kegiatan ke pertanian  dan umkm nya itu , jadi  sering saya sampaikan ini coba dana yang sudah ada itu kita gunakan sebaik-baiknya , karena tahun-tahun sebelumnya itu tidak ada bantuan khusus untuk ke pertanian. Dan lagi, terus terang saja, dulu-dulu pun kalau ada bantuan , itu peralatan hanya jadi dijual saja . Jadi sekarang to, bemana kita gunakan betul ini barang-barang bantuan. Dan kita sepakati saja setelah berjalannya ini kegiatan-kegiatan, mau kita ketemu tiap bulan kah, kita  duduk bersama rembukkan , barangkali ada kendala apa bisa kita sama-sama bicarakan nantinya” 
“Minggu kemarin juga saya sampaikan,  ke masjid dan desa , masalah ternak. Satu dua minggu kedepan ini saya rapat kembali untuk desa, untuk penertiban hewan ternak, nanti kita siapkan sudah itu lahannya” – tutup Pak Kades dalam penyampaiannya 
Lebih lanjut , ketua dan anggota tiap kelompok usaha saling bercerita mengenai tantangan dan perkembangan kelompok usaha mereka. Misalnya saja untuk kelompok usaha minyak kelapa murni atau yang biasa disebut minyak kelapa kampung. 

WhatsApp Image 2020-07-14 at 09.23.44

“Ini kita masih takut-takut ba bikin banyak, kita belum tau tehniknya bagaiamana bisa tahan lama.Karena dia murni, satu bulan itu saja so te teralu enak baunya” 

Lain halnya dengan kelompok usaha minyak kelapa murni, kelompok usaha tani dusun paling terjauh. Kira-kira jarak tempuh dari dusun mereka ke kantor desa  bisa setengah jam atau sampai satu jam bila cuaca cukup ekstrim . Info yang kami dapatkan dari TIM PRB JMK Oxfam,  penduduk di dusun itu juga hanya sekitar puluhan KK, akses jalan sangat rumit dan beresiko. 
“Kita itu ya permasalahnnya  ke  pemasarannya juga, karena akses jalan cukup ngeri, mau dibawa kesini dan kesana itu nanggung , ibaratnya ini hasil panen seperti  barang “masak”, tau-tau berapa hari kemudian kalau tidak segera terjual  ya busuk. Tapi ini kan kita kesulitan dari akses jalannya, dari dusun kami  ke tempat kantor desa ini saja jaraknya lumayan. Apalagi situasi jalan yang seperti sekarang . Hujan terus-menerus” ungkap salah seorang petani dari sumber wangi, manimbaya 

WhatsApp Image 2020-07-14 at 09.23.47
Pengecekkan manajemen pembukuan kelompok usaha oleh tim Livelihood

Dan terakhir, menutup  sesi sharing dengan masyarakat , tim kami berkunjung ke masing-masing tempat, rumah produksi  umkm dan kelompok usaha perkebunan yang dimotori oleh perempuan penggerak ekonomi desa manimbaya. 
Karena waktu yang terbatas dan situasi yang belum cukup kondusif, dari desa manimbaya kami hanya dapat melakukan kunjungan monitoring di dua kelompok usaha. Lalu melanjutkan di dua desa  yakni  desa Ketong, dan sampai pada  keesokan harinya monitoring ke kelompok usaha desa Lompio . 

WhatsApp Image 2020-07-14 at 09.23.48
Kelompok Usaha minyak kelapa di Desa lompi

WhatsApp Image 2020-07-14 at 09.31.23
Rumah produksi usaha minyak kelapa kelompok usaha desa Lom