Masyarakat Tangguh terhadap Iklim dan Bencana Indonesia/Indonesia Climate and Disaster Resilient Communities (ICDRC)

Perubahan iklim dan kebencanaan

Meningkatnya insiden bahaya hidrometeorologi di Indonesia dikarenakan perubahan iklim, juga dengan pertumbuhan aktivitas manusia dan degradasi lingkungan, mengarah pada peningkatan insiden dan intensitas bencana. Laporan terakhir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa dalam tiga tahun terakhir (2015-2017), telah terjadi peningkatan insiden bencana di Indonesia dari 1.691 insiden pada tahun 2015, menjadi 2.369 dan 2.372 peristiwa pada tahun 2016 dan 2017. Adapun 90% bencana yang terjadi didominasi oleh bencana hidrometeorologi yang dipicu oleh faktor perubahan iklim. Lebih lanjut, BNPB mengungkapkan bahwa lebih dari tiga juta orang terkena dampak setiap tahun dan rata-rata 30 triliun rupiah (3,3 miliar AUD) diperlukan untuk tujuan pemulihan di daerah-daerah yang terkena bencana.

Pertanian dan perikanan masih menjadi pendorong utama pertumbuhan di Indonesia dan merupakan pemberi kerja dan pencipta lapangan kerja terbesar. Sekitar 41,2% penduduk miskin berbasis pedesaan di Indonesia mencari nafkah melalui sektor pertanian. Perempuan pedesaan merupakan tulang punggung pertanian dan perikanan Indonesia. Mereka adalah kunci untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas sektor-sektor tersebut. Mereka juga berperan dalam adaptasi perubahan iklim dan ketahanan sistem pangan. Hal ini hanya dapat terjadi apabila akses dan kontrol atas tanah dan sumber daya, pelatihan, dan peluang modal diprioritaskan untuk perempuan di sektor-sektor tersebut.

Perubahan iklim adalah salah satu ancaman terbesar yang dihadapi masyarakat petani dan nelayan dan orang-orang yang tinggal di daerah pesisir dan pulau kecil (Nusa Tenggara Timur) di mana banyak dari proyek ini akan dilaksanakan, dan dampak negatif dari kekeringan berkepanjangan di lokasi-lokasi ini semakin memengaruhi setiap jenis pertanian.

DOWNLOAD