Perempuan Lansia desa Langaleso ; tetap  Produktif  di Era Pandemik 

Perempuan Lansia desa Langaleso ; tetap  Produktif  di Era Pandemik 

Perempuan Lansia desa Langaleso ; tetap  Produktif  di Era Pandemik 

Bencana tidak hanya menyisakkan sejumlah permasalahan kompleks bagi setiap mereka yang terdampak, tapi kemudian bisa menjadi titik balik , menstimulus adanya aksi untuk terus melanjutkan hidup yang lebih aktif. Belumlah usai dampak berkepanjangan yang ditimbulkan oleh bencana 28/9 di Sulawesi Tengah, masyarkat penyintas masih harus merasakan  bagaimana pandemik Covid-19 membawa perubahan bagi sendi kehidupan mereka, khususnya dalam kemandiran membangun ekonomi.  

13     11

Nenek Dian (69thn) dan Nenek Aida (61 thn) Anggota kelompok Usaha Kripik Desa Langaleso dan produk yang siap jual

Sore itu, cuaca cukup bersahabat. Meski  sisa-sisa hujan masih nampak di sepanjang area jalan dan membuat tapak sepatu kami menjadi lebih mudah tertanam di areal tanah yang lembap, langkah kami menjadi begitu cepat dan bersemangat mendatangi rumah salah satu kelompok usaha dampingan kami di Desa Langaleso, Kab Sigi. Ada yang unik dari kelompok usaha satu ini. Dua orang anggota kelompoknya adalah mereka yang sudah lanjut usia,  anggota kelompok yang lain iseng menamai mereka sebagai nenek-nenek produktif , seperti menjadi maskot untuk kelompok usaha mereka. Lucunya lagi kelompok usaha ini memproduksi kripik  singkong pedas yang tentunya tidaklah begitu bersahabat bagi gigi kedua nenek-nenek ini. Namun saat ditanyai mengenai motivasi mereka bergabung di kelompok usaha kripik , nenek-nenek ini penuh antusias membagi ceritanya. 

12
 Kios dan juga rumah Produksi kelompok Usaha Kripik desa yang dibangun dari bantuan modal usaha  PKBI JMK Oxfam 
 

“ Dari dulu Sa memang suka  ba kegiatan.  Suka juga bajual. Jadi Sa Suka sekali ikut kegiatan usaha ini. Kita bisa bakumpul-kumpul dapa uang. Te cape dirasa, senang  daripada cuman ba dudu-dudu te ada dikerja” ujar nenek Diana (69thn) yang menjadi saksi langsung kerasnya hidup di zaman G30S/PKI ini 
Nenek Diana bercerita bagaimana ia dan kelompok usahanya bisa tetap berjualan dan berpenghasilan  meski saat pademik covid-19 melanda dan beberapa protokol kesehatan termasuk pemberlakuan jam masuk keluar desanya diberlakukan pemerintah daerah . Dari penuturannya, pemasaran dibantu oleh anak-anak dan cucu mereka melalui platform media sosial dan didistribusikan ke kios-kios

“Kami mulai bakerja itu pagi-pagi, sore kita istirahat , baru  kami lanjut lagi habis isya. Ada yang bakupas, ada yang ba goreng dan ada yang ba bungkus-bungkus, banyak itu hasilnya, biasanya dua karung.  Nanti anak-anak yang ba jual , ba antar kalau ada yang ba pesan online. Ongkirnya biasa dorang ambil lima ribu “ Dalam sekali produksi,  kelompok usaha kripik ini dapat menghasilkan ratusan pcs kripik dengan pengolahan manual. Dengan perlengkapan yang sederhana, kripik-kripik yang telah selesai diolah dan dibungkus oleh anggota kelompok lainnya ini diletakkan di etalase kios yang juga dibangun dari bantuan modal usaha livelihood PKBI JMK Oxfam.  

14
Peralatan sederhana yang dimiliki oleh kelompok usaha Kripik Singkong  dari distribusi bantuan PKBI JMK Oxfam

Seperti halnya nenek Diana yang bercerita mengenai rasa senangnya dapat bergabung dalam kelompok usaha ini, nenek Aida (61 thn) , menuturkan keterlibatannya dalam kelompok usaha dapat membuatnya lebih rileks dan dapat berkegiatan lebih aktif mengisi  kekosongan hari-harinya yang sudah mulai senja. “Kan saya juga cuman berdua deng suami. Karena dua orang anak saya meninggal pas masih bayi-bayi, te ada juga sekarang apa yang mo dipikir. Jadi Sa suka sekali mo bagabung ba usaha begini. Apa sama-sama kita semua  bakumpul.  Ba aktif kegiatan.  Te dirasa waktu.  Ada yang sa bikin. Sa bakupas-kupas, nanti anak-anak yang lain ba goreng deng ba bungkus”  urai nenek Aida yang suaminya saat ini sedang struk dan tak dapat lagi menggarap area pertaniannya karena kesulitan air  yang tak lagi mengalir pasca gempa 28/9 di  tanah pribadi  yang menjadi lahan taninya.  

Sejak pandemik  covid-19 ditetapkan Pemerintah sebagai bencana non alam,  yakni bencana yang diakibatkan oleh rangkaian peristiwa non alam berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit, hampir sebagian besar lini kehidupan di setiap sektor  lumpuh dan mengalami adaptasi yang baru untuk dapat bertahan . Tak terkecuali bagi sendi-sendi kehidupan lain yang mungkin tak tersoroti dalam rangkaian ulasan heroik di media massa. Namun bagi kedua lansia ini, ada pandemik atau tidak, perjalanan hidup tetaplah berlanjut dengan  bagaimana mereka dapat  menikmati sisa-sisa waktunya dengan produktif dan penuh makna.

(Nurwahida JMK - Oxfam)