Perjalanan JMK-OXFAM- Sulawesi Selatan

Perjalanan JMK-OXFAM- Sulawesi Selatan

Membangun Pasigala

Jejaring Mitra Kemanusiaan (JMK) - OXFAM merupakan potret manis jalinan kerja sama lembaga lokal dan internasional dalam menangani masalah bencana. Mereka sudah menjadi kesatuan utuh yang setara. Berbagai upaya dilakukan agar warga tertimpa bencana mendapatkan pelayanan yang baik. Karena mereka mengemban amanah dari pendonor bahwa setiap sumbangan yang dikeluarkan, akan bermanfaat bagi mereka yang terkena musibah.
Hubungan JMK dan OXFAM sampai menjadi satu kesatuan program  seperti sekarang ini sudah memiliki sejarah yang cukup panjang. Dino Argianto, Humanitarian Operation Lead JMK-OXFAM untuk kegiatan Respons Sulawesi Tengah menyatakan, OXFAM merupakan NGO berbasis di Inggris dan sudah ada di Indonesia sejak tahun 1955. Dalam menjalankan aksi sosialnya, OXFAM  menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga lokal. Misalnya saja kerja sama membangun ketangguhan dan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana dan manajemen bencana khususnya masyarakat  di kawasan Indonesia Timur. 
Tahun 2004 saat bencana tsunami menerjang Aceh, OXFAM juga ikut terlibat langsung menangani masalah. Peristiwa tsunami Aceh semakin meneguhkan bahwa OXFAM ke depan harus bermitra lebih baik lagi dengan lembaga lokal. “Karena sebagai lembaga internasional kami tidak bisa turun langsung, kecuali bencana khusus seperti tsunami Aceh yang masuk kategori satu. Untuk bencana khusus,  pemerintah memperbolehkan lembaga asing turun langsung. Namun, untuk kategori di bawahnya tidak bisa sehingga harus bermitra dengan lembaga lokal,” jelas Dino.
Dino memaparkan sebuah bencana masuk kategori I jika jumlah korban  di atas 250 ribu jiwa. Untuk kategori II jumlah korban antara 100 ribu -  250 ribu jiwa,  sedangkan  untuk kategori III korbannya di bawah 100 ribu jiwa. “Nah, berkat  kerja sama dengan lembaga lokal, OXFAM bisa terjun ke semua kategori bencana. OXFAM mendukung pendanaan, sedang lembaga jaringannya bertugas merespons dengan cepat bencana tersebut.”

CATATAN SEJARAH DI LOMBOK
JMK atau Jejaring Mitra Kemanusiaan merupakan wadah yang lahir dari semangat besar untuk berbagi pengetahuan di bidang humanitarian. Sekitar awal 2017, di tingkat Oxfam muncul wacana Kemitraan untuk Satu Program. Ancilla Bere, penanggung jawab beberapa program humanitarian Oxfam mengajak JEMARI Sakato, salah satu mitra Oxfam di  Sumatera Barat,  untuk merancang sebuah platform pengetahuan. Yakni sebuah platform yang bisa menyatukan berbagai keahlian lembaga-lembaga atau NGO yang selama ini menjalin kerja sama dengan OXFAM dalam menjalankan misi kemanusiaannya di Indonesia.

Kerjasama Oxfam dengan Jemari Sakato sudah dimulai sejak tahun 2012 yang lalu. Berawal dari sebuah program humanitarian bertajuk “Membangun Ketahanan Masyarakat di Daerah Rawan Bencana” dimana JEMARI Sakato menjadi mitra pelaksana program. Program ini pada awalnya bekerja sama dengan 2 lembaga lokal lainnya yaitu PKBI Sumbar dan Walhi Sumbar pada pertengahan tahun 2011 di Provinsi Sumatera Barat. Program dilaksanakan  di Kabupaten Padang Pariaman dan Agam. Namun, pada pertengahan tahun 2012, salah satu mitra yaitu Walhi yang bekerja untuk kabupaten Agam, memutuskan untuk mengundurkan diri dan mengakhiri kerja sama karena beberapa alasan internal. Inilah awal kerja sama OXFAM dengan lembaga pengganti yaitu JEMARI Sakato, bergerak pada isu tata kelola pemerintahan serta humanitarian khususnya pengurangan resiko bencana. 

JEMARI melanjutkan kerja sama yang telah dibangun dengan Walhi di Nagari (setingkat desa) Tiku Selatan sampai tahun 2016. Lembaga yang didirikan tanggal 14 Juli 2004 ini setidaknya telah membangun kepedulian masyarakat, Pemerintahan Daerah, dan kalangan swasta untuk pengurangan resiko bencana. Selain itu, JEMARI juga mendorong UMKM di tingkat Nagari untuk mandiri dan memiliki kapasitas untuk bertahan di kawasan yang rawan bencana. Tiku Selatan merupakan nagari yang berada di kawanan pinggir pantai dan memiliki ancaman bencana gempa dan tsunami. 
Singkat cerita,  berbasis pengalaman kerjasama yang cukup baik selama 5 tahun tersebut, Oxfam mendorong JeMARI untuk mengelola platform pengetahuan yang selanjutnya disebut dengan Knowledge Hub (KH). KH yang dinakhodai Nuwirman (aktivis JEMARI Sakato) langsung mengelola rangkaian kegiatan, termasuk mengidentifikasi mitra-mitra Oxfam seluruh Indonesia untuk bersama-sama mengelola pengetahuan melalui program KH. 

Selama hampir 1 tahun perjalanan, program KH melahirkan beberapa hal penting terutama terkait dengan hasil pemetaan kapasitas dari lebih kurang 19 lembaga mitra Oxfam. Pemetaan ini juga mendorong lahirnya komitmen dari 6 lembaga yang memiliki kompetensi dalam respons bencana. Komitmen bersama yang saat itu dikenal dengan sebutan Standby Agreement (SA) ditandatangani JEMARI dengan lembaga SuaR Indonesia, CIS  Timor, KKSP Medan, PKPA Medan, Aksara Yogja dan LP2DER Bima.  

“JEMARI tidak memiliki kemampuan dan pengalaman dalam respons bencana. Akan tetapi sebagai pelaksana program KH, JEMARI  bertanggung jawab dalam tata kelola dan teknis  pelaksanaan respons oleh anggota SA,” imbuh Syafrimet Azis, penanggung jawab KH yang ditunjuk oleh JEMARI pasca dikelola oleh Nuwirman. Menurut Ancilla, kompetensi JEMARI di Tata kelola lah yang mendorong Oxfam untuk memberikan kepercayaan pada lembaga ini. “Dinamika diskusi ditingkat kami pun cukup tinggi, mengingat ini adalah hal baru. Banyak juga yang pesimis dengan terobosan ini. Tapi kami jalan terus, dan waktu yang akan membuktikan. Dan hari ini, KH sudah memberikan banyak hal buat kita semua” demikian sebut Ancilla menjawab keraguan banyak orang. Program KH terus berjalan termasuk menangani beberapa bencana kategori 3.  Diawali dengan bencana gunung Agung Bali, Gunung Merapi Jogja,  dan berlanjut dengan bencana gempa Bumi Lombok.  “Respons Lombok bulan Juli 2018 menjadi catatan sejarah tersendiri bagi Oxfam, mitra SA, dan KH secara keseluruhan,” ujar Syafrimet Azis. 

Syafrimet mengungkapkan, kala itu KH bekerja bersama lembaga anggota yang berbasis di Lombok (non SA). Anggota mitra SA telah di deploy dari daerah masing-masing melalui mekanisme yang sudah dimiliki KH dalam melakukan respons. “Di Lombok inilah lahir sebutan JMK atau Jejaring Mitra Kemanusiaan untuk KH, karena dinilai bisa memudahkan dalam berkomunikasi. Sungguh membahagiakan, di Lombok JMK mendapatkan penerimaan yang cukup baik karena mampu berkolaborasi dengan masyarakat korban bencana maupun pihak lain seperti pemerintah dan pihak swasta,” papar Syafrimet. Namun ada yang menarik dari sebutan JMK ini. “Sampai hari ini kita belum menemukan siapa yang pertama kali mencetuskan nama ini. Mungkin muncul dari cetusan2 saat diskusi reguler dalam proses repon di Lombok sehingga tidak terekam dengan baik,” lanjut Ancilla sambil tersenyum.  

PENGALAMAN BARU

Akhir September tak  lama setelah gempa Lombok, terjadi  bencana gempa bumi, tsunami dan liquifaksi di Sulawesi Tengah. Berbasis pengalaman Lombok yang cukup bagus, OXFAM kembali bersama JMK menuju Palu untuk melakukan respons serupa. Gempa Palu masuk kategori dua.  Oxfam juga turun secara langsung dengan mendatangkan tim respons dari Global Humanitarian Team (GHT)  Oxfam Regional. JMK masuk dalam struktur respons OXFAM. Sebuah pengalaman baru dan menantang bagi tim JMK karena berkolaborasi dengan tim GHT Oxfam yang sudah berpengalaman dalam respons kemanusiaan di berbagai negara. Bekerja dalam satu struktur respons ini merupakan pengalaman pertama baik bagi Oxfam maupun JMK.  Semua individu yang terlibat dalam tim pun merasakan pengalaman luar biasa. 

Bencana Palu memunculkan dinamika respons yang tinggi serta tekanan pekerjaan. Pola komunikasi pun kadang tidak sejalan. “Semua itu berjalan dengan irama yang kadang naik, kadang turun. Harus kita akui, proses ini memberikan kedewasaan serta warna kepada semua pihak.  Kita, kan, berasal dari lembaga yang berbeda dengan mekanisme kerja yang sebelumnya juga berbeda. Dalam kondisi seperti itu, kita harus bekerja dalam satu mekanisme respons dengan standart tinggi,” ujar Syafrimet. 

Uda Met, demikian Syafrimet sering dipanggil mengatakan, proses ini memberikan kesempatan peningkatan kapasitas bagi tim JMK,  terutama untuk sektor Water Sanitation and Hygiene (WASH) maupun Food Security (EFSFL). Tenaga JMK yang berpengalaman di sub sektor WASH seperti Public Health Engineering (PHE) maupun Public Health Promotion (PHP) secara tidak langsung bisa mempelajari teknik-teknik dengan standar tinggi. ”Demikian juga untuk program support seperti logistik, finansial, maupun human resource,” imbuh  penanggung jawab kemitraan JMK dan Oxfam ini.

Saat melakukan respons gempa Palu, posisi JMK sudah tidak terpisah lagi tetapi sudah menjadi satu-kesatuan. Artinya, antara JMK dan OXFAM bekerja dengan prinsip kesetaraan. Sebelum KH atau JMK terbentuk, hubungan antara OXFAM dengan lembaga lokal lebih pada pola subordinat. Ketika ada bencana, OXFAM akan meminta lembaga mitranya turun sebagai penanggung jawab respons dan OXFAM  menjalankan peran-peran asistensi teknis. Kemudian setelah usai, OXFAM bersama mitra melakukan evaluasi. 

Praktik respons Palu memberikan nuansa baru bermitra dan mendorong pada prinsip-prinsip kesetaraan dan capasity building. “Kami berharap ke depan teman-teman dari JMK terus belajar meningkatkan kapasitas sehingga semua divisi dalam struktur respons dapat diisi oleh teman JMK. OXFAM mensupport soal keberlangsungan pendanaan dari pendonor serta beberapa di posisi tertentu saja,” pinta Dino. Dino mengungkapkan, setelah sistem JMK-OXFAM itu berjalan dengan baik, akan sangat terbuka kemungkinan  JMK mencari pendanaan dari donor lain di luar OXFAM. “Kami lebih senang kalau teman-teman JMK bisa menjalin relasi dengan NGO lain dan mendapat donor dari sana. Sebab,  itu menjadi tolok ukur bahwa kami berhasil mengkader. Tapi dengan catatan teman-teman JMK tetap bisa menjaga prinsip-prinsip humanitarian. Meski nanti menjalin kerja sama dengan NGO lain, OXFAM tetap akan memberikan dukungan jika diminta,” jelas Dino.

Selain meningkatkan kapasitas, Dino juga meminta JMK untuk melebarkan sayap.  Yaitu melakukan penjajakan untuk menjalin kemitraan sebanyak-banyaknya dengan lembaga lain di berbagai daerah di Indonesia.  “Kelak jika ada bencana, maka pelaksanaan responsnya tidak hanya dengan enam lembaga yang sudah ada. Semakin banyak mitra, tentu respons bisa tergarap lebih bagus,” papar Dino. 

Sanusi, Direktur Suar Kediri menambahkan, prinsip kerja sama JMK dan OXFAM sekarang ini dibalik. Awalnya  JMK  hadir untuk membantu kerja OXFAM. “Untuk ke depan,  OXFAM akan membantu JMK.  Tentu kita tidak akan melupakan nama-nama yang selama ini berjasa mendukung perjalanan JMK terutama di Palu. Untuk itu, kami berterima kasih kepada  Mbak Ancilla, Mbak Meili, Mas Bagus, Kang Hilman dan banyak nama lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu.” Gaung JMK pun sudah sampai ke jejaring Oxfam seluruh dunia. “Karena kita  di beri kesempatan oleh Oxfam untuk tampil sebagai narasumber dalam kegiatan HECA LHL learning Event di Kenya, Afrika. Diwakili oleh Keumala Dewi, Direktur PKPA, salah satu anggota Standby Agreement,” lanjut Sanusi.  
 

Gandhi Wasono M.