TANTANGAN  MENDOBRAK KEBIASAAN & PERILAKU MASYARAKAT DALAM PENYADARTAHUAN 5 PILAR STBM

TANTANGAN  MENDOBRAK KEBIASAAN & PERILAKU MASYARAKAT DALAM PENYADARTAHUAN 5 PILAR STBM

TANTANGAN  MENDOBRAK KEBIASAAN & PERILAKU MASYARAKAT DALAM PENYADARTAHUAN 5 PILAR STBM

 “Kebiasaan adalah persimpangan pengetahuan (apa yang harus dilakukan), keterampilan (bagaimana melakukan), dan keinginan (ingin melakukan)”. -Stephen R. Covey

Maxwell Maltz, dalam salah satu bukunya yang popular Psycho-Cybernetics pada tahun 1960, mengulas tentang berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh manusia dalam mengubah kebiasaan mereka. Dari hasil pengamatanya, Max yang merupakan ahli bedah plastik ini menyebutkan dibutuhkan waktu selama 21 hari bagi pasien-pasiennya untuk terbiasa dengan wajah baru mereka setelah menjalani operasi plastik. Sementara studi baru di tahun 2009 yang dipublikasikan dalam The European Journal of Social Psychology menemukan bahwa perubahan kebiasaan,  perilaku tiap orang bisa sangat bervariasi. Yakni berkisar antara 18-254 hari tergantung individunya masing-masing, meski untuk tiap rata-ratanya dari hasil studi tersebut menunjukkan 76 hari bagi diri seseorang untuk mengubah kebiasaannya. 

2 Pak Hermanto, Salah seorang Mitra JMK Oxfam yang berprofesi sebagai Sanitarian Di desa Pandere, Kab Sigi Sulawesi Tengah 

Sejalan dengan studi diatas, menarik untuk kemudian kita ulas mengenai bagaimana tantangan yang dihadapi oleh tim PhP (Public Health Promotion ) untuk mendobrak kebiasaan masyarakat dalam proses penyadartahuan 5 Pilar STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) di 33 desa intervensi JMK Oxfam  Palu, Sigi dan Donggala. Sulawesi Tengah

Sebelumnya, bisa diceritakan apa itu 5 Pilar STBM dan bagaimana hal ini diterapkan ke desa-desa dampingan JMK Oxfam? 

5

Maya (26), Tim PhP JMK Oxfam saat sedang memimpin diskusi rencana Aksi warga

STBM ini singkatan dari Sanitasi total Berbasis Masyarakat. Dari program kementrian kesehatan , dicanangkan untuk menekan angka kesakitan di Indonesia. Jadi  STBM  merupakan  pendekatan untuk mengubah perilaku higienis dan saniter melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara pemicuan. Tujuannya untuk memutus mata rantai penularan penyakit dan keracunan. Adapun 5 Pilar STBM yang dimaksud adalah 1) Stop Buang Air Sembarangan; 2) Cuci Tangan Pakai Sabun; 3) Pengelolaan Air Minum dan Makanan; 4) Pengelolaaan Sampah serta 5) Pengelolaaan Limbah cair.


4 
Foto bersama peserta dan panitia penguatan kapasitaa STBM JMK Oxfam


Sebagai tim promosi kesehatan, kami melakukan pelatihan-pelatihan, forum-forum diskusi dan pendampingan tindakan rencana aksi ke masyarakat-masyarakat desa dengan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat, pemuka agama, sekolah, kader kesehatan desa, pemerintah desa, untuk turut serta dalam proses  penyadartahuan serta pembangunan 5 Pilar STBM ini ditiap desa mereka masing-masing. 


Berarti ini erat kaitannya dengan kebiasaan serta perilaku masyararakat untuk hidup bersih dan sehat ya, lalu seperti apa tantangan dan strategi yang dijalankan? 

Ia benar. Kebiasaan-kebiasaan dan perilaku ini tentunya bermula dari pengetahuan dan ilmu seseorang. Untuk itu langkah awal yang kami lakukan adalah membuka wawasan masyarakat dengan memberikan ilmu pengetahuannya lebih dulu melalui pelatihan-pelatihan tadi. Di pelatihan ini semua peserta akan dilatih bagaimana mengenal dan melestarikan serta bisa hidup dengan lingkungan yang bersih dan sehat sesuai 5 pilar tadi. Jadi dari yang belum tau, diharapkan menjadi tau. Dan tentunya setelah tau, diharapkan ada perubahan perilaku serta kebiasaan-kebiasaan yang sebelumnya tidak tepat dapat diubah. Tantangannya yang pasti adalah bagaimana kesadaran setiap individu dapat terbentuk dengan sendirinya. Karena meskipun sudah tau, hal yang paling sulit adalah bagaimana mengubah kebiasaan-kebiasaan lama tadi. Seperti bagi yang sudah terbiasa BAB di sungai, buang sampah sembarangan, kotoran hewan ternak yang masih berserakan di lingkungan warga, dll. Jadi strateginya disini kami harus bisa mendorong kerjasama semua pihak, termasuk yang paling penting juga adalah dukungan dari peraturan -peraturan dari perangkat desa yang dapat membantu kedisiplinan warga. 


1 
Koordinasi Tim PhP JMK Oxfam dan Sanitarian Puskesmas Mitra JMK Oxfam


Menyoal terbentuknya kesadaran akan perubahan-perubahan kebiasaan tadi, bagaimana idealnya kebiasaan diri seseorang ini dapat diukur untuk membantu keberhasilan dari program PhP? Apakah kebiasaan-kebiasaan ini dapat diubah dengan cepat? Seperti apa langkah jitunya?
Follow up di kontrol, pengawasan dan bentuk pengawalan kita. Kebiasaan-kebiasaan itu tentu bisa diubah, meski perlu waktu tapi kemudian tidak bisa dikatakan akan memakan waktu lama atau cepat. Semuanya bisa  "segera terjadi perubahan konkret" kalau bersungguh-sungguh. Yang kita perlukan adalah  penguatan di bagaimana kita dapat terus "mengawal"  dengan rencana aksi yang menjadi tindak lanjut dari pengawalan untuk membantu proses-proses perubahan kebiasaan perilaku tadi. 

 

3 
Diskusi aktif peserta Penguatan STBM JMK Oxfam

Senada dengan Maya sebagai salah satu tim PhP JMK Oxfam, Pak Hermanto (43thn)  berprofesi sebagai Sanitarian selama hampir kurang lebih 20 tahun di Puskesmas desa Pandere, Kabupaten Sigi yang juga merupakan mitra JMK Oxfam ikut membenarkan bahwa hal yang paling menantang adalah bagaimana kesadaran-masyarakat tersebut dapat terbangun dan memiliki kebiasaan-kebiasaan baru untuk aktif secara mandiri menciptakan  hidup bersih dan sehat 

"Karena kalau hanya sekedar tau saja itu tentu tidak cukup untuk merubah perilaku atau kebiasaan, maka kita perlu untuk bagaimana melakukan "pemicuan" , yakni melakukan pendekatan partisipatif dalam mengajak masyarakat untuk menganalisa kondisi sanitasi mereka. Jadi kebiasaan buruk yang misalnya BAB disembarangan tempat, pengolahan sampah yang tidak tepat, dapat diatasi oleh kesadaran masyarkatnya itu sendiri. Dan tentunya, bicara soal terbangunnya kesadaran masyarakat itu tidaklah mudah. Selain memang butuh kerjasama semua lintas sektor dan stakeholder terkait, dibutuhkan upaya-upaya pencegahan yang dapat mendorong keberhasilan program 5 Pilar STBM ini. Misalnya dengan terbentuknya peraturan daerah yang dapat mendisiplinkam warga, dan paling penting juga adalah kita perlu mendorong masyarakat untuk bisa mandiri. Jadi jangan tunggu ada dana atau mengharapkan ada bantuan dana dulu baru bergerak. Tidak mau diundang datang pelatihan karena tidak ada uang pengganti transport misalnya. Kalau seperti ini akan menjadi kebiasaan buruk yang akan merusak tatanan kehidupan kita" 


Memang tidak ada yang mudah ketika seseorang ingin mengubah kebiasaan diri mereka. Meski pada dasarnya kita manusia adalah mahluk yang paling bisa dan cepat untuk beradaptasi, namun  kebiasaan buruk tidak mungkin akan hilang tanpa memulainya dengan kebiasaan baik sebagai gantinya. Karena keadaan akan masih tetap sama selama kebiasaan masih tetap yang lama.

Penulis : Nurwahida - Medcom JMK Oxfam