Toilet Ramah Perempuan Bagi Penyintas Bencana Sulbar

Toilet Ramah Perempuan Bagi Penyintas Bencana Sulbar

JMK | 2021 | Direktur Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Sulawesi Tengah Nining Rahayu sebagai Lead Respons JMK Oxfam untuk bencana Sulbar mengatakan, dalam situasi kebencanaan akses air  bersih dan sanitasi seperti fasilitas toilet selalu menjadi kebutuhan mendasar, namun fasilitas yang dibangun tersebut belum memikirkan keamanan perempuan dan anak sebagai kelompok paling rentan terhadap pelecehan dan kekerasan seksual di situasi kebencanaan.

"Salah satu fokus pendampingan kami dalam respon ini adalah kelompok rentan. Dan berdasarkan hasil pemetaan kebutuhan yang telah kami lakukan, perempuan merupakan kelompok yang paling banyak mengakses toilet umum mulai dari aktivitas mencuci, mengambil air untuk masak, atau memandikan anak. Maka dalam pembangunan toilet umum, kita harus memikirkan dan menyediakan toilet yang aksesibel dan ramah perempuan," ujar Nining Rahayu. 

Lebih jauh Nining menjelaskan, fasilitas toilet umum yang disediakan semestinya menjauhkan perempuan dan kelompok rentan dari potensi pelecehan dan kekerasan seksual. 

Pengintipan di toilet kerap terjadi dikarenakan konstruksi bangunan toilet yang saling berdempetan tanpa sekat antara laki-laki dan perempuan yang memicu pelecehan dan kekerasan seksual terjadi.  "Kita belajar dari bencana Sulawesi Tengah, betapa banyak kasus pelecehan seksual yang terjadi dikarenakan toilet-toilet yang dibangun di masa tanggap darurat yang tidak ramah perempuan. Terlebih ketika mereka (perempuan) mengakses latrine di malam hari atau situasi tertentu, perempuan harus terhindar dan dijauhkan dari potensi kekerasan seksual. JMK Oxfam belajar dan mencoba berbenah dari hal tersebut dengan berupaya membangun fasilitas toilet yang aman bagi perempuan," ujar Nining

Secara konstruksi, toilet umum yang dibangun JMK-Oxfam tersebut memberikan sekat antara toilet laki-laki dan perempuan sebagai upaya mengantisipasi pelecehan seperti pengintipan di toilet umum. 

"Walaupun keadaan masih emergency yang mana memiliki keterbatasan dalam hal sumber daya dan waktu, namun kami mencoba membangun konstruksi toilet yang ramah bagi perempuan untuk menghindari potensi pelecehan terhadap perempuan, anak dan kelompok rentan," jelas Munawir, WASH PHE JMK-Oxfam. 

Ernawati, salah satu penyintas dari desa Maliaya, kabupaten Majene mengatakan, toilet menjadi salah satu hal yang sulit diakses pada saat bencana. 

"Sebagai perempuan, ada perasaan khawatir ketika mengakses toilet yang terbuka atau tidak ada sekat antara laki-laki dan perempuan apalagi di malam hari. Saya kadang pikir-pikir dulu kalau mau mandi atau buang air.  Syukur sekarang toilet yang dibangun JMK Oxfam ini sudah dirasa aman karena ada sekat," ujarnya.

Degina Adenessa